Feeds:
Posts
Comments

Seberapa Nyata-kah Ancaman Mikotoksin pada Pakan dan Dampaknya Bagi Pengusaha Ayam di Asia??

The Threats

Corn With Mold – Mycotoxin

Saat ini mikotoksin telah dikenal sebagai komponen yang berbahaya pada pakan hewan, yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dengan gejala yang membingungkan. Hal ini secara khusus mengakibatkan performa hewan menjadi buruk dan akhirnya jatuh sakit. Di samping itu, ancaman bahaya mikotoksin juga dapat masuk ke dalam rantai makanan manusia melalui produk-produk hewan tsb (daging, jeroan dan susu). Seperti komponen beracun alami lainnya, mikotoksin sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan iklim, oleh sebab itu tidak dapat ditawar lagi bahwa para pengusaha pabrik pakan harus melakukan proses pengecekan rutin terhadap mikotoksin secara faktual di lapangan. Hal tsb dapat membantu mereka mempersiapkan diri untuk mengontrol potensi permasalahan yang akan terjadi pada hewan ternak dengan cara mencampurkan binder (pengikat) yang tepat untuk mengurangi mikotoksin pada bahan Baku yang berasal dari daerah rawan, atau dengan cara menghindari pembelian bahan baku yang telah terkontaminasi mikotoksin.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh Global Animal Health Company, Alltech Inc, terhadap mikotoksin pada complete feed (pakan lengkap) dan biji-bijian yang berasal dari wilayah Asia, cemaran mikotoksin didominasi oleh DON, ZEA, Fumonisin dan Aflatoxin. Survey ini dimulai Januari 2006 sampai dengan December 2007, melibatkan 800 sampel yang berasal terutama dari Cina dan Asia Tenggara. Bahan baku yang diuji meliputi jagung beserta limbahnya, seed meals, limbah biji-bijian lain serta pakan lengkap (complete feed). Kemudian sampel tersebut diuji dengan metode ELISA untuk menilai kandungan Aflatoxin, T-2 toxin, ochratoxin, zearalenone (ZEA), fumonisin dan deoxynivalenol (DON, vomitoxin).

Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa permasalahan utama yang ada di wilayah Asia adalah DON, ZEA, Fumonisin dan Aflatoxin. Jagung merupakan sumber utama kontaminan DON, ZEA, Fumonisin dan Aflatoxin. Limbah jagung, seperti DDGS, corn glutten meal, dan corn germ meal, rawan terkontaminasi ZEA, funonisin, DON dan Ochratoxin. SBM secara umum menunjukkan hasil yang rendah terhadap kontaminasi mikotoksin kecuali ZEA. Bagaimanapun, tingginya kontaminasi mikotoksin pada SBM adalah tergantung dari seberapa banyak jumlah kulitnya (soy hulls), hal ini disebabkan mikotoksin lebih terkonsentrasi pada kulit kedelai. Oleh karena itu, semakin tinggik jumlah kulit kedelai, semakin tinggi pula tingkat kontaminasinya.

global-feed-survey-2015

Pada umumnya lebih dari 70% kandungan pakan adalah jagung, SBM dan limbah jagung. Sebagai kompensasinya, pakan (complete feed) sebagian besar terkontaminasi oleh DON, ZEA, Fumonisin dan Aflatoxin. Dari hasil survey dan penelitian sangat jelas bahwa ancaman utama adalah dari DON, ZEA, Fumonisin dan Aflatoxin, namun sebaliknya kontaminasi T-2 relatif rendah. Di samping itu, mereka juga telah mengkonfirmasi bahwa banyak sampel yang terkontaminasi lebih dari satu jenis mikotoksin dengan jumlah yang tinggi. Produk limbah (by-products) merupakan bahan baku yang mengandung mikotoksin paling tinggi dibandingkan bahan baku lain.

Ketika data hasil survey dianalisa dan dibandingkan menurut wilayah geografisnya, dapat ditemukan beberapa perbedaan. Cina relatif tinggi terhadap kontaminasi ZEA, DON dan Fumonisin dibandingkan Asia Tenggara. Sedangkan Asia Tenggara lebih tinggi kontaminasi Aflatoxin dibandingkan Cina. Masing-masing wilayah menunjukkan persentase sampel positif yang hampir sama. Perbedaan distribusi mikotoksin pada berbagai wilayah tersebut menunjukkan kondisi iklim, penyimpanan/gudang, fasilitas atau manajemen pemanenan pada masing-masing Negara.

Berhubung kepala udah overheat, to be continued …. 

Strategi Baru dalam Memaksimalkan Kekebalan dan Hasil Vaksinasi

pada Industri Unggas Modern

Industri Unggas Modern

Industri peternakan unggas saat ini (modern) menuntut tingkat produktifitas maksimal sehingga memaksa para ahli untuk menciptakan unggas dengan tingkat pertumbuhan daging atau produktifitas telur yang tinggi. Namun, kondisi ini tidak diimbangi dengan perkembangan sistem kekebalan tubuh yang memenuhi syarat seiring digenjotnya produktifitas tersebut.

Setiap unggas yang dipacu untuk berproduktifitas tinggi akan berakibat timbulnya kondisi stress, konsekuensinya adalah semua unggas modern dapat dipastikan mengalami tingkat stress yang tinggi. Bercermin dari situasi dan kondisi tersebut, tidak mengherankan apabila unggas (breeder, layer atau broiler) pada saat ini sangat mudah terserang penyakit atau sering mengalami kegagalan dalam pembentukan kekebalan/vaksinasi. Untuk menjawab tuntutan dan mengatasi kondisi yang tidak kondusif tersebut, diperlukan terobosan/inovasi baru agar industri unggas modern dapat mengatasi kerugian akibat kurang mampunya unggas memproduksi tingkat kekebalan yang protektif.

Sistem Kekebalan

Secara umum, sistem kekebalan adalah suatu mekanisme makhluk hidup/hewan untuk melindungi dirinya dari benda asing yang bersifat patogen, sehingga tidak menimbulkan penyakit. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kekebalan unggas, seperti status kesehatan, kualitas pakan, lingkungan dsb. Kekebalan dapat dibentuk dengan memasukkan kuman patogen secara terukur/terkendali, sehingga tubuh merespon untuk membentuk zat kebal yang dapat bersifat spesifik (bekerja terhadap agen patogen yang sama) ataupun non-spesifik (bekerja terhadap semua agen patogen).

Pembentukan Antibody

Ketika patogen masuk ke dalam tubuh unggas, maka sel-sel makrofag, heterofil dan monosit akan memakannya, menguraikan serta menyajikannya berupa protein Antigen (Ag) dari sel patogen. Selanjutnya sel Limfosit-Th akan membawa protein Ag tersebut menuju organ pembentuk antibodi (bursa fabricius, limpa dll) dan melalui zat interleukin maka disampaikan informasi agar organ-organ tersebut memproduksi zat kebal (antibodi). Antibodi bekerja secara spesifik, sesuai dengan jenis patogen yang ditangkap oleh makrofag (mekanisme kunci-gembok).

Salah satu cara yang popular saat ini untuk meningkatkan kekebalan adalah dengan pemberian vaksinasi. Namun, seiring peningkatan infeksi lapang dan tingkat kebutuhan industri unggas modern, dengan pemberian vaksinasi saja tidaklah mencukupi, karena vaksinasi hanya bertanggung jawab terhadap kekebalan spesifik. Secara sederhana, sistem kekebalan spesifik hanya dibutuhkan apabila sistem kekebalan non-spesifik tidak mampu memberikan perlindungan yang cukup. Selain itu, tingkat antibodi (kekebalan spesifik) yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan unggas dan kesiapan sistem kekebalan non-spesifik dalam menunjang proses terbentuknya antibodi. Oleh karena itu, kita dapat memaksimalkan sistem kekebalan unggas dengan cara melibatkan kedua sistem kekebalan yang ada, yaitu kekebalan spesifik dan non-spesifik agar dapat bekerja optimal dalam melindungi unggas dari infeksi patogen.

INMUNAIR 17.5

Inmunair btlINMUNAIR 17.5 adalah suatu produk immunotherapy yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan unggas dalam membentuk sistem pertahanan tubuh, baik yang bersifat non-spesifik maupun spesifik (antibodi). Pemberian INMUNAIR 17.5 melalui air minum bertujuan menghilangkan faktor immunosupresi, mengoptimalkan respon terhadap agen patogen eksternal sehingga penyebab immunodepresi dapat dikurangi.

INMUNAIR 17.5 mengandung Lipopolisakarida (LPS) E. coli dan sel P. acnes. LPS E. coli mengaktifkan makrofag (non-spesifik), menginduksi respon proliferasi dan diferensiasi Limfosit-B untuk menghasilkan antibody. Sedangkan sel P. acnes memiliki kapasitas produksi interferon dan stimulasi Limfosit-Th dan Tc (spesifik).

Pemberian INMUNAIR 17.5 berfungsi:

  1. Meningkatkan respon tubuh terhadap vaksinasi
  2. Menurunkan immunosupresi akibat penyakit, stress dl
  3. Meningkatkan daya immunorespon terhadap infeksi penyakit
  4. Mempercepat perkembangan dan pematangan sistem kekebalan
  5. Meningkatkan kemampuan dan jumlah sel-sel limfosit
  6. Menurunkan tingkat kerusakan akibat infeksi patogen

Bahan aktif immunotherapeutic dalam INMUNAIR 17.5, dengan segera dapat dideteksi oleh mekanisme kekebalan unggas karena pengenalan kedua zat aktif tersebut sama seperti pengenalan sistem kekebalan unggas pada umumnya terhadap patogen yang masuk ke tubuh, sehingga terjadi proses sebagai berikut:

  1. INMUNAIR 17.5 mengaktifkan “first line of cell defence” yaitu respon kekebalan non-spesifik, berupa pengaktifan makrofag/monosit.
  2. INMUNAIR 17.5 meningkatkan respon kekebalan spesifik (antibodi). Pemberian INMUNAIR 17.5 segera meningkatkan kemampuan deteksi dan presenting antigen oleh makrofag sehingga menstimulasi Limfosit-T untuk memproduksi sitokin yang akan meningkatkan kemampuan proliferasi dan diferensiasi Limfosit-B untuk menghasilkan antibodi.
  3. INMUNAIR 17.5 meningkatkan kekebalan mukosa. Setelah distimulasi INMUNAIR 17.5, maka makrofag, Limfosit-T dan Limfosit-B akan bermigrasi dari jaringan limfoid menuju mukosa usus untuk membentuk sistem pertahanan lokal berupa Immunoglobulin A (IgA) dan meningkatkan respon potensi kekebalan lokal yang bekerja secara umum.
  4. INMUNAIR 17.5 mengaktifkan dan memproliferasi Limfosit-T yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan produksi reseptor interleukin-2 pada permukaan sel limfosit.
  5. INMUNAIR 17.5 meningkatkan respon produksi antibodi. Hal ini disebabkan efek mitogenik dari LPS E. coli, sehingga produksi immunoglobulin akan meningkat.

Kesimpulan

INMUNAIR 17.5 merupakan konsep baru dan terukur dari Laboratorium Calier, yang telah terbukti membantu keberhasilan jutaan peternakan unggas modern di seluruh dunia (Asia, Amerika, Eropa dan Afrika).

INMUNAIR 17.5 bekerja sinergis dengan vaksin sehingga diperoleh tingkat kekebalan yang tinggi untuk melindungi peternakan unggas modern dari resiko kegagalan karena faktor stress yang tinggi pada unggas.

INMUNAIR 17.5 bekerja sinergis dengan antibiotik. Dengan penggabungan aplikasi, maka antibiotik bekerja secara langsung membunuh bakteri, dan pada saat yang bersamaan, INMUNAIR 17.5 bekerja merangsang sistem kekebalan unggas untuk melawan patogen, sehingga proses pencegahan, pengobatan dan persembuhan akan lebih maksimal.

INMUNAIR 17.5 mengaktifkan dan meningkatkan sistem kekebalan non-spesifik (first line of cell defence), stimulasi kekbalan mukosa berupa sekresi IgA, dan mengaktifasi sistem kekebalan spesifik (selular dan humoral) dengan cara meningkatkan proliferasi Limfosit-T dan Limfosit-B yang sangat penting dalam pembentukan antibodi.

INMUNAIR 17.5 berbeda dengan immunomodulator, karena INMUNAIR 17.5 bekerja cepat & berfungsi sebagai immunotherapy sehingga mampu membantu mengatasi dan mencegah unggas yang sehat ataupun telah terinfeksi penyakit dari tingkat mortalitas (kematian) dan morbiditas (kesakitan).

INMUNAIR 17.5 dapat dicampur dalam vaksin, obat-obatan (antibiotik) ataupun vitamin, sehingga pemberian INMUNAIR 17.5 tidak mengganggu program vaksinasi dan pengobatan.

Oleh: MUHAMMAD FIQRIE RAHMAN (B04104108)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

Sumberdaya Alam Hayati dan Plasma Nutfah Indonesia
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pemanfaatan keanekaragaman hayati telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, sandang, dan obat-obatan. Kecukupan pangan akan tergantung pada ketersediaan varietas unggul yang berproduksi tinggi dan tahan cekaman biotik dan abiotik. Pada dasarnya varietas unggul itu adalah kumpulan dari keanekaragaman genetik spesifik yang diinginkan dan dapat diekspresikan. Keanekaragaman genetik spesifik tersebut ada pada plasma nutfah komoditi yang bersangkutan. Jadi plasma nutfah adalah keanekaragaman genetik di dalam jenis. Keanekaragaman genetik tersebut harus dipertahankan keberadaannya, bahkan harus diperluas agar selalu tersedia bahan untuk pembentukan varietas unggul (Somantri 2005).

Pemanfaatan Plasma Nutfah
Plasma nutfah yang kita miliki tidaklah berarti tanpa pemanfaatan untuk kesejahteraan. Pemanfaatan plasma nutfah dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Pemanfaatan plasma nutfah bisa secara langsung atau melalui proses pemuliaan. Pemanfaatan plasma nutfah melalui pemuliaan lebih membutuhkan dasar-dasar ilmiah daripada pemanfaatan plasma nutfah secara langsung. Di dalam teknik pemuliaan saat ini dikenal dengan istilah pemuliaan secara konvensional dan pemuliaan secara in-konvensional melalui bioteknologi (Somantri 2005).

Potensi Sumberdaya Ikan
Sebagai sumber plasma nutfah dan genetik, perairan umum daratan Indonesia memiliki keanekaragaman jenis ikan yang tinggi, sehingga tercatat sebagai salah satu perairan dengan ”mega biodiversity” di dunia. Komisi Nasional Plasma Nutfah Indonesia melaporkan bahwa perairan umum daratan Indonesia mengandung kekayaan plasma nutfah ikan yang jenisnya sangat banyak mencapai 25% dari jumlah jenis ikan yang ada di dunia. Di perairan umum daratan Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi saja, dihuni oleh lebih dari 1000 jenis ikan, bahkan menurut FAO, perairan umum daratan Indonesia dihuni oleh sekitar 2000 jenis ikan. Banyak diantara jenis ikan yang ada belum tercatat atau belum teridentifikasi sehingga jumah jenisnya dari tahun ke tahun selalu bertambah (Kartamihardja et al 2008).


Peran Sektor Perikanan Darat

Ditinjau dari sektor perikanan, perairan umum daratan sebagai salah satu wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia berperanan penting dalam hal sebagai berikut: (1) sumber protein dan ketahanan pangan; (2) sumber ekonomi masyarakat; (3) sumber lapangan kerja; (4) sumber plasma nutfah dan genetik, (5) sumber devisa dan pendapatan asli daerah, dan (6) obyek wisata alam (eco-turism).
Dewasa ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi identifikasi dengan menggunakan DNA telah menambah catatan kekayaan jenis ikan di Indonesia. Sebagai contoh, jenis ikan yang termasuk famili Pangasidae (jenis-jenis patin/catfish) yang semula hanya dikenal 6 jenis, kini dengan menggunakan identifikasi DNA ternyata jenis-jenis ikan patin tersebut diketahui menjadi 12 jenis (Kartamihardja et al 2008).

Budidaya Ikan Patin
Banyak cara untuk memanfaatkan plasma nutfah yang begitu berlimpah di negeri ini. Salah satu cara pemanfaatannya adalah melalui budidaya ikan patin. Ikan patin djambal (Pangasius pangasius) merupakan ikan asli Indonesia yang berhasil didomestikasikan dan dipijahkan secara buatan pada tahun 1999. (Anonim 2008)
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm (Susanto 1997).


Pedoman Teknis Budidaya Ikan Patin

Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih selepas masa pendederan.
Secara garis besar kegiatan usaha pembenihan ikan patin secara berurutan meliputi: Pemilihan calon induk siap pijah, persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor, kawin suntik (induce breeding), pengurutan (stripping), penetasan telur, dan perawatan larva (Hernowo 2005).
Setelah dilakukan pemanenan pada usaha pembenihan, kegiatan budidaya dilanjutkan dengan pemeliharaan pembesaran. Secara garis besar, usaha pembesaran ikan patin meliputi empat hal mendasar, yaitu: pemupukan, pemberian pakan, pemeliharaan kolam, dan pemanenan. (Anonim 2008).

Permasalahan yang Dihadapi Petani Ikan Patin
Suatu kegiatan usaha pastinya tidak akan terlepas dari adanya berbagai permasalahan. Jika ditinjau berdasarkan tingkat perkembangan ikan patin, permasalahan yang timbul diantaranya adalah permasalahan mengenai induk, telur dan larva. Sedangkan berdasakan penyebabnya, permasalahan dapat timbul akibat hama dan penyakit.
Menurut salah satu petani pembenihan patin di daerah Cikampak, Ciampea Bogor, permasalahan yang kerap kali muncul adalah Lambatnya Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada indukan. Masalah yang satu ini tidak dapat dianggap sepele karena posisi TKG berada pada bagian hulu dari usaha budidaya. Manajemen budidaya merupakan kegiatan yang dilakukan secara berurutan sehingga segala aspek yang berada pada bagian hulu akan mempengaruhi kualitas produk di bagian hilir usaha.

Solusi yang Ditawarkan Continue Reading »

Apa kabar kawan? semoga sehat selalu, amiin..sudah lama absen di blog, jadi kepingin nulis lagi..
barusan buka-buka web, ada artikel menarik dari Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta,  judulnya seperti yang tertera di atas..
Daging ayam, merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak digemari masyarakat indonesia, karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan daging sapi, selain itu juga mudah didapat.. Animo masyarakat ini menjadi trigger para penjual daging ayam untuk mendapatkan/menyediakan daging ayam lebih banyak.. Namun, cara-cara yang digunakan tentu saja tidak semuanya baik, ada beberapa (mungkin lebih banyak dari perkiraan saya) pedagang ayam yang kurang memperhatikan aspek ASUH dalam menyajikan produk dagangannya, dan itu akan membahayakan kita sebagai konsumen.. Oleh karena itu, Saya kira setiap keluarga, khususnya ibu rumah tangga harus mengetahui cara membedakan daging ayam yang baik dan  yang tidak baik.. Berikut adalah kutipannya, selamat menikmati..


Daging ayam merupakan daging yang relatif murah dibandingkan dengan daging yang lain ( Daging sapi, kerbau dan kambing) sehingga banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari tingkat atas sampai tingkat bawah.

Daging ayam yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) adalah daging yang diharapkan oleh semua konsumen, karena dari berbagai aspek daging ayam yang ASUH terjamin jika dikonsumsi oleh masyarakat.

Pengertian ASUH :
AMAN : Tidak mengandung residu bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit atau mengganggu kesehatan manusia.
SEHAT : Memiliki zat-zat yang berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan.
UTUH : Tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian hewan lain.
HALAL : Sesua dengan syariat ISLAM

Pelaku bisnis yang terlibat dalam proses pemotongan ayam hingga perdagangan daging ayam sangat banyak dan beragam tingkat pendidikannya, sehingga penyimpangan dalam penanganan dan perdagangan daging ayam sering ditenui di tempat Pemotongan Ayam (TPA) atau di pasar.

  • Praktek penyimpangan apa saja yang dijumpai dipasar?

Praktek penyimpangan dalam penanganan karkas ayam mulai dari tempat Pemotongan Ayam ( TPA) sampai ke tempat penjualan telah banyak dijumpai seperti :

1. Penjualan bangkai ayam sebagai ayam potong
2. Pemakaian formalin sebagai bahan pengawet
3. Penyuntikan karkas ayam dengan air atau udara.
4. Pemberian warna kuning pada karkas atau daging ayam.

  • Bagaimana cara membedakan karkas daging ayam yang sehat dengan yang tidak sehat atau telah dilakukan penyimpangan ? Continue Reading »

TINJAUAN KASUS

Anamnesis:

Kucing ditemukan di pinggir jalan darmaga Bogor, dengan perut membesar.

Signalement:

Nama                             : NN

Jenis                              : Kucing

Jenis kelamin             : Betina

Ras                                  : Lokal

Warna bulu                  : Hitam dan putih

Umur                             : Lebih dari 2,5 tahun

Berat badan                : 2,5 Kg

Status Present:

Keadaan umum

Perawatan                       : Sedang

Habitus/tingkah laku : Jinak

Gizi                                     : Sedang

Pertumbuhan badan   : Baik

Sikap berdiri                  : Berdiri  tegak dengan empat kaki

Suhu tubuh                    : 38,7 0C

Frekuensi nadi               : 152 kali/menit

Frekuensi nafas             : 24 kali/menit

Adaptasi lingkungan   : Baik

Kulit dan bulu:

Aspek bulu                     : Mengkilat, bersih

Kerontokan                    : rontok

Kebotakan                      : tidak ada

Turgor kulit                    : baik, < 3 detik

Permukaan kulit           : Pada daerah ventral abdomen terdapat jahitan luka post operatif yang sudah mengering.

Bau kulit                           : Bau khas kucing

Kepala dan leher:

Ekspresi wajah              : Bereaksi, waspada

Pertulangan kepala     : Kompak, tidak ada perubahan

Posisi tegak telinga     : Tegak keduanya

Posisi kepala                  : tegak

Mata dan Orbita Kiri dan Kanan

Palpabrae                      : Membuka sempurna

Cilia                                  : Tumbuh ke arah luar

Konjunktiva                  : Rose

Membrana Nictitans : Tersembunyi

Sclera                              : Putih

Cornea                            : Jernih

Iris                                    : Kuning pucat

Limbus                            : Tepi rata

Pupil                                : Membuka

Refleks Pupil                 : Ada

Limbus                            : Rata

Vasa injeksi                   : Tidak ada

Hidung dan Sinus-Sinus: Cermin hidung kering, tidak ada discharge, lubang hidung simetris

Mulut dan Rongga Mulut

Rusak/Luka Bibir       : Tidak ada

Mukosa                          : Rose

Gigi Geligi                      : Gigi seri tanggal 9, canine atas kanan tanggal  separuh, ada karang gigi

Lidah                               : Tidak ada kerusakan

Telinga

Posisi                              : Tegak keduanya

Bau                                   : Tidak ada

Permukaaan Daun Telinga: Bersih, tidak ada kerak

Krepitasi                         : Tidak ada

Refleks panggilan        : Ada

Leher

Perototan                       : Simetris, tidak ada kebengkakan

Trachea                           : Teraba

Esofagus                          : Teraba, tidak adanya sisa makanan

Lymphonodus rethropharingealis

Ukuran                           : Kecil, tidak ada perubahan

Lobulasi                         : Jelas

Perlekatan                    : Tidak ada

Konsistensi                   : Kenyal

Suhu                                : Tidak panas

kesimetrisan                : Simetris

Sistem Pernapasan

Bentuk, ukuran thoraks : Simetris, tidak ada pembesaran

Tipe pernapasan            : Costal

Ritme                                  : Teratur/ritmis

Intensitas                          : Sedang

Frekuensi                          : 24 kali/menit

Penekanan rongga thoraks  : Tidak ada respon sakit

Palpasi intercostals                 : Tidak ada respon sakit

Lapangan paru-paru               : Tidak ada perluasan

Gema perkusi                             : Nyaring (suara udara)

Suara pernapasan                    : Terdengar jelas, tidak ada perubahan

Suara ikutan                               : Tidak ada

Sistem sirkulasi

Ictus cordis                     : Tidak ada

Lapangan jantung         : Tidak ada perluasan

Frekuensi                         : 152 kali/menit

Intensitas                        : Sedang

Ritme                                 : Teratur, cepat

Suara sistol-diastolik  : Terdengar jelas

Ekstrasistolik                  : Tidak ada

Sinkron pulpus dan jantung: Sinkron

Abdomen dan Organ Cerna

Besar abdomen               : Tidak simetris, pembesaran pada bagian ventral dan sisi sebelah kanan

Bentuk Abdomen           : Pembesaran di hipogastrik kiri dekat daerah inguinalis

Flank                                   : Terlihat

Suara peristaltik lambung: Tidak terdengar

Epigastricus                   : Teraba, bagian ventral menonjol

Mesogastricus               : Teraba, bagian ventral menonjol

Hypogastricu                : Teraba, bagian ventral sedikit sensitif, menonjol, Pada daerah ventral abdomen terdapat jahitan luka post operatif yang sudah mengering.

Continue Reading »

FELINE CALICI VIRUS

SIGNALEMENT

Nama              :  Princess

Spesies           :  Kucing

Ras                  :  Persia

Sex                  :  Betina

Warna             :  Coklat-krem

Umur               :  2 bulan

Nama Pemilik : Mr. X

Alamat             : Jakarta

ANAMNESE

Princess bersin-bersin dan pilek, belum pernah di vaksin, tidak disusui induknya. Makanan sebelumnya adalah recovery food.

PRESENT ILLNESS

Activitas          :  Lethargy

Appetize          :  Anoreksia

Minum             :  Tidak mau minum

Defekasi          :  Normal

Urin                 :  Normal

Vomit               :  (-)

Batuk               :  (-)

Pilek                :  (+)

STATUS PRESENT

Berat badan    :  1,2 kg

Suhu                :  40,4oC

Palpasi abdomen :   Tekanan dan rasa sakit (-)

Lymphonodus : Tidak bengkak

Mukosa           :  Anemis

Mata                :  Ada discharge serous

Hidung             :  Ada discharge mucopurulent

Trakhea           :  Palpasi trakhea tidak ada batuk

Telinga            :  Kotor

Mulut               :  Salivasi dan ada ulcer

Kulit                 :  Kusam

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Feses
  • CBC (Complete Blood Count) / hematologi

Continue Reading »

Di dalam Alqur’an surat Al-Maidah ayat 88 disebutkan bahwa “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizqikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. Untuk memenuhi hal tersebut (makanan yang halal dan baik), serta keamanan produk pangan asal hewan (PPAH), maka dalam berkurban harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut (Dinas Peternkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2009).

Perlakuan pada hewan sebelum disembelih:

  1. Pemeriksaan antemortem (pemeriksaan kesehatan hewan sebelum disembelih). Paling lama 24 jam sebelum penyembelihan dilaksanakan. Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan hewan (di bawah pengawasan dokter hewan). Hanya hewan Sehat yang boleh dipotong.
  2. Hewan dilakukan secara baik dan wajar dengan memperhatikan azas kesejahteraan hewan.
  3. Hewan diistirahatkan sekurang-kurangnya 12 jam sebelum disembelih untuk menghasilkan daging yang berkualitas.
  4. Hewan sebelum disembelih dipuasakan selama kurang lebih 6 jam namun diberi minum yang cukup.
  5. Saat penyembelihan, hewan direbahkan secara hati-hati, tidak dengan cara paksa dan kasar agar hewan tidak stress, takut, tersiksa dan tersakiti/terluka agar setelah dilakukan pemotongan otot tidak tegang dan perubahan dari otot menjadi daging akan lebih sempurna serta tidak menimbulkan resiko bagi penyembelih.

Syarat Penyembelih:

  1. Laki-laki muslim, dewasa (baligh)
  2. Sehat jasmani dan rohani
  3. Memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis dalam penyembelihan halal yang baik dan benar.

Syarat peralatan: Continue Reading »