TINJAUAN KASUS
Anamnesis:
Kucing ditemukan di pinggir jalan darmaga Bogor, dengan perut membesar.
Signalement:
Nama : NN
Jenis : Kucing
Jenis kelamin : Betina
Ras : Lokal
Warna bulu : Hitam dan putih
Umur : Lebih dari 2,5 tahun
Berat badan : 2,5 Kg
Status Present:
Keadaan umum
Perawatan : Sedang
Habitus/tingkah laku : Jinak
Gizi : Sedang
Pertumbuhan badan : Baik
Sikap berdiri : Berdiri tegak dengan empat kaki
Suhu tubuh : 38,7 0C
Frekuensi nadi : 152 kali/menit
Frekuensi nafas : 24 kali/menit
Adaptasi lingkungan : Baik
Kulit dan bulu:
Aspek bulu : Mengkilat, bersih
Kerontokan : rontok
Kebotakan : tidak ada
Turgor kulit : baik, < 3 detik
Permukaan kulit : Pada daerah ventral abdomen terdapat jahitan luka post operatif yang sudah mengering.
Bau kulit : Bau khas kucing
Kepala dan leher:
Ekspresi wajah : Bereaksi, waspada
Pertulangan kepala : Kompak, tidak ada perubahan
Posisi tegak telinga : Tegak keduanya
Posisi kepala : tegak
Mata dan Orbita Kiri dan Kanan
Palpabrae : Membuka sempurna
Cilia : Tumbuh ke arah luar
Konjunktiva : Rose
Membrana Nictitans : Tersembunyi
Sclera : Putih
Cornea : Jernih
Iris : Kuning pucat
Limbus : Tepi rata
Pupil : Membuka
Refleks Pupil : Ada
Limbus : Rata
Vasa injeksi : Tidak ada
Hidung dan Sinus-Sinus: Cermin hidung kering, tidak ada discharge, lubang hidung simetris
Mulut dan Rongga Mulut
Rusak/Luka Bibir : Tidak ada
Mukosa : Rose
Gigi Geligi : Gigi seri tanggal 9, canine atas kanan tanggal separuh, ada karang gigi
Lidah : Tidak ada kerusakan
Telinga
Posisi : Tegak keduanya
Bau : Tidak ada
Permukaaan Daun Telinga: Bersih, tidak ada kerak
Krepitasi : Tidak ada
Refleks panggilan : Ada
Leher
Perototan : Simetris, tidak ada kebengkakan
Trachea : Teraba
Esofagus : Teraba, tidak adanya sisa makanan
Lymphonodus rethropharingealis
Ukuran : Kecil, tidak ada perubahan
Lobulasi : Jelas
Perlekatan : Tidak ada
Konsistensi : Kenyal
Suhu : Tidak panas
kesimetrisan : Simetris
Sistem Pernapasan
Bentuk, ukuran thoraks : Simetris, tidak ada pembesaran
Tipe pernapasan : Costal
Ritme : Teratur/ritmis
Intensitas : Sedang
Frekuensi : 24 kali/menit
Penekanan rongga thoraks : Tidak ada respon sakit
Palpasi intercostals : Tidak ada respon sakit
Lapangan paru-paru : Tidak ada perluasan
Gema perkusi : Nyaring (suara udara)
Suara pernapasan : Terdengar jelas, tidak ada perubahan
Suara ikutan : Tidak ada
Sistem sirkulasi
Ictus cordis : Tidak ada
Lapangan jantung : Tidak ada perluasan
Frekuensi : 152 kali/menit
Intensitas : Sedang
Ritme : Teratur, cepat
Suara sistol-diastolik : Terdengar jelas
Ekstrasistolik : Tidak ada
Sinkron pulpus dan jantung: Sinkron
Abdomen dan Organ Cerna
Besar abdomen : Tidak simetris, pembesaran pada bagian ventral dan sisi sebelah kanan
Bentuk Abdomen : Pembesaran di hipogastrik kiri dekat daerah inguinalis
Flank : Terlihat
Suara peristaltik lambung: Tidak terdengar
Epigastricus : Teraba, bagian ventral menonjol
Mesogastricus : Teraba, bagian ventral menonjol
Hypogastricu : Teraba, bagian ventral sedikit sensitif, menonjol, Pada daerah ventral abdomen terdapat jahitan luka post operatif yang sudah mengering.
Isi usus halus : lembek
Isi usus besar : lembek
Anus
Sekitar anus : Kotor
Refleks spincter ani : Ada
Pembesaran kolon : Tidak ada
Urogenital
Mukosa vagina : Rose
Kelenjar mamae : tidak ada perubahan
Besar : tidak ada perubahan
Letak : Tidak simetris akibat benjolan di ventral abdomen, tidak ada perubahan
Bentuk : tidak ada perubahan
Kesimetrisan : Tidak simetris akibat benjolan di ventral abdomen
Konsistensi kelenjar : kenyal
Alat gerak
Otot kaki depan : simetris, tidak ada perubahan
Otot kaki belakang : simetris, tidak ada perubahan
Spasmus otot : tidak ada
Tremor : tidak ada
Sudut persendian : tidak ada perubahan
Cara bergerak/berjalan : koordinatif, tidak ada perubahan
Cara bergerak-berlari : koordinatif, tidak ada perubahan
Struktur pertulangan
Kiri depan : Kokoh, tidak ada perubahan
Kanan depan : Kokoh, tidak ada perubahan
Kiri belakang : Kokoh, tidak ada perubahan
Kanan belakang : Kokoh, tidak ada perubahan
Konsistensi pertulangan: Kokoh, tidak ada perubahan
Reaksi saat palpasi : tidak ada rasa sakit
Letak reaksi sakit : tidak ada
Panjang kaki depan ka/ki : sama
Panjang kaki belakang ka/ki : sama
Limfonodula poplitea :Teraba kecil, tidak ada perubahan
Gejala klinis:
Bagian abdomen kucing terlihat membesar dan mengeras. Pada daerah yang membesar tersebut dapat direposisi melalui suatu lubang yang membentuk cincin di bagian abdomen. Pada bagian medianus abdomen, terdapat jahitan bekas operasi sebelumnya.
Pemeriksaan Lanjutan:
Tidak ada
Diagnosa:
Hernia abdominalis
Prognosa :
Dubius-Infausta
Terapi :
Tindak bedah/operasi laparotomi medianus posterior
MATERI DAN METODE
Bahan
Bahan yang digunakan antara lain: Atropin sulfat dosis 0,04 mg/KgBB IM, xylazine 2% dengan dosis 1 mg/kgBB IM, ketamin HCL10% dengan dosis 15 mg/kgBB IM, alkohol 70%, Iodium tincture, antibiotik penicillin cair 50000 IU, oxytetracylin dosis 14 mg/kg.
Alat
Stetoskop, termometer, pinset sirugis, pinset anatomis, towel clamp, gunting bengkok, gunting lurus tumpul tajam dan gunting lurus tajam-tajam, scalpel, needle holder, needle (round dan cutting), syringe 1 cc, tampon dan kapas, plester dan verband, tang arteri, cat gut chromic 3/0 dan silk 3/0.
Prosedur Operasi:
A. Premedikasi
Dilakukan penentuan dosis premedikasi yang akan diberikan, kemudian hewan dihandel dan dilakukan penyuntikan atropin 0,025% IM. Tindakan ini dilakukan 10 menit sebelum pemberian anastetikum.
B. Pembiusan/Anasthesi
- Kucing dihandle
- Injeksi Ketamin + Xylazine (sesuai perhitungan) intramuskular pada otot semimembranosus dan semitendinosus
- Setelah kucing tidak sadar, bagian abdomen sekitar daerah orientasi sayatan, dicukur sampai bersih.
- Kemudian daerah orientasi tersebut dibersihkan dengan alkohol 70% dan dioles dengan iodium tincture 3% ke arah luar.
- Kucing dibawa ke meja operasi dengan posisi ventrodorsal (terlentang) yang sebelumnya telah diberi alas koran.
- Keempat kaki diikat satu per satu dengan menggunakan simpul tomfool dan kemudian dikaitkan ke meja operasi.
- Daerah sekitar orientasi ditutup dengan kain steril
Perhitungan Dosis
Premedikasi
- Atropin : 0,02 mg/kgBB x 2,5 KgBB = 0,2 ml
0,25 mg/ml
Anasthesi
- Xylazin 2% = 1 mg/kgBB x 2,5 KgBB = 0,125 ml
20 mg/ml
- Ketamin 10% = 15 mg/kgBB x 2,5 KgBB = 0,375 ml
100 mg/ml
Antibiotik
- Penicillin 50000 IU Topikal secukupnya
- Oxytetracyclin = 14 mg/kgBB x 2,5 KgBB = 0,175 ml
200 mg/ml
C. Orientasi
Pada laparotomi kali ini, dilakukan penyayatan di daerah abdomen dengan teknik laparotomi medianus posterior. Penyayatan dilakukan pada linea alba (medianus), 3-5 cm di posterior umbilikal.
D. Teknik Operasi
- Lapisan kulit disayat menggunakan scalpel. Sayatan bersifat lurus dan langsung (tidak terputus) sepanjang 2-3 cm.
- Lapisan subkutis dipreparir kemudian dijepit menggunakan tang arteri bersama kulit. Penjepitan dilakukan pada masing-masing ujung sayatan.
- Lubang dilebarkan menggunakan gunting tumpul-tumpul.
- Cincin hernia dicari dan kemudian organ-organ yang keluar dari cincin tersebut dimasukkan kembali dan rongga abdomen diberi antibiotik penicillin cair topikal.
- Peritoneum dan omentum dijahit menggunakan jarum bundar, cat gut chromic 3/0 dengan jahitan sederhana.
- Ujung-ujung otot abdominal dijahit menggunakan jarum bundar, cat gut chromic 3/0 dengan jahitan sederhana.
- Kulit dan subkutis dijahit menggunakan jarum segitiga, benang silk 3/0 dengan jahitan sederhana.
- Bekas jahitan diolesi dengan Iod tincture 3% dan diolesi levertran.
- Kemudian bekas jahitan tersebut ditutup dengan kain kassa dan verban.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Status Present:
Keadaan umum
Perawatan : Sedang
Habitus/tingkah laku : Jinak
Gizi : Sedang
Pertumbuhan badan : Baik
Sikap berdiri : Berdiri tegak dengan empat kaki
Suhu tubuh : 38,7 0C
Frekuensi nadi : 152 kali/menit
Frekuensi nafas : 24 kali/menit
Adaptasi lingkungan : Baik
Diagnosa hernia perlu memperhatikan signalemen, anamnese, dan temuan klinis. Pada umumnya hewan yang mengalami hernia abdominalis atau umbilikalis adalah hewan muda (Hedlund et al. 2002). Hernia terjadi 90% pada hewan muda dan bersifat kongenital. Sisanya disebabkan oleh trauma yang dialami hewan tersebut (Foster 2009). Diagnosa hernia dapat dilakukan melalui palpasi dengan menemukan cincin hernia pada kucing dimana organ dari dalam rongga abdominal akan keluar. Bila diinspeksi, terlihat adanya benjolan akibat usus yang keluar dibawah kulit melewati cincin (Primovic 2009).
Berdasarkan status present, bagian abdomen kucing membesar dan ada bagian yang menonjol di mesogastrium ventral. Di bagian ventral yang menonjol tersebut terdapat cincin dan ketika dilakukan palpasi, jaringan yang berada di dalam lubang cincin dapat keluar-masuk. Pada bagian mesogastrium-hipogastrium ventral, terdapat bekas luka sayatan dan jahitan. Dari kondisi tersebut diperkirakan kucing ini sebelumnya pernah dilakukan tindak operasi pada bagian abdomen. Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kucing tersebut mengalami hernia abdominalis. Keadaan fisiologis kucing (denyut jantung, nafas dan suhu tubuh) berada dalam kisaran normal, dengan demikian kucing layak untuk dilakukan tindak operasi.
Sebelum dilakukan operasi, kucing diberikan obat preanastesi dengan menyuntikkan atropin intramuskular untuk mencegah terjadinya muntah. Atropin termasuk antimuskarinik agen, yang bekerja dengan cara menurunkan kontraksi otot polos, sehingga digunakan sebagai preanastetik untuk mencegah atau mengurangi sekresi saluran pernafasan dan mencegah muntah.
Menurut Kumar (1996), obat-obatan preanastesi digunakan untuk mempersiapkan pasien sebelum pemberian agen anestesi baik itu anastesi lokal, regional ataupun umum. Tujuan pemberian agen preanestesi tersebut adalah untuk mengurangi sekresi kelenjar ludah, meningkatkan keamanan pada saat pemberian agen anestesi, memperlancar induksi anestesi, mencegah efek bradikardi dan muntah setelah ataupun selama anestesi, mendepres reflek vagovagal, mengurangi rasa sakit dan gerakan yang tidak terkendali selama recovery. Ganiswara (2001) menambahkan, atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai antikolinergik atau parasimpatolitik. Atropin sebagai prototip antimuskarinik mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat reversible dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan atau pemberian antikolinesterase.
Beberapa saat setelah aplikasi atropin (kurang lebiih 10 menit), kucing dianasthesi menggunakan xylazin yang dicampur dengan ketamin HCL. Xylazin diambil terlebih dahulu untuk mencegah tercampurnya ketamin ke dalam vial xylazine. Menurut Flecknel (2009), injeksi agen anastetik pada kucing berupa Ketamin yang dikombinasikan dengan xylazine, akan memberikan efek anastetik selama 20-30 menit, dan memberikan efek tidur selama 180-240 menit.
Xylazine menimbulkan efek relaksasi muskulus juga analgesi. Kondisi tidur yang ringan sampai dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk masing-masing spesies hewan. Obat ini dapat berfungsi sebagai sedatif yang efeknya tercapai maksimal 20 menit setelah pemberian intramuskular dan berakhir setelah 60 menit. Xylazin untuk tujuan relaksasi muskulus pada umumnya dikombinasikan dengan ketamin untuk beberapa spesies termasuk kucing. Pada hewan kecil, efek sampingnya meliputi bradikardia dan penurunan cardiac output, vomit, tremor, motilitas intestinal menurun tetapi kontraksi uterus meningkat, selain itu juga mempengaruhi keseimbangan hormonal antara lain menghambat produksi insulin dan ADH (Sardjana dan Kusumawati 2004).
Dosis xylazin pada kucing 1,0-2,0 mg/kg secara intra muskular dengan mula kerja obat 3-5 menit. Pada anjing dan kucing onset kerja xylazin setelah pemberian cecara intramuskular atau subkutan dapat terlihat dalam 10-15 menit dan pada pemberian intravena 3-5 menit. Efek analgesiknya dapat berlangsung 15-30 menit tetapi aksi sedasi 1-2 jam tergantung dari pemberian dosis. Recovery sempurna setelah pemberian dosis antara 2-4 jam pada anjing dan kucing (Plumb 1999).
Ketamin mempunyai sifat analgesic, anastetik dan kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk sistim somatik tetapi lemah untuk sistim visceral, tidak menyebabkan relaksasi otot lurik bahkan kadang-kadang tonusnya sedikit meninggi. Ketamin HCl merupakan analgesia yang tidak menyebabkan depresi dan hipnotika pada syaraf pusat tetapi berperan sebagai kataleptika. Setelah pemberian ketamin, refleks mulut dan menelan tetap ada dan mata masih terbuka.
Menurut Slatter (2003), penggunaan ketamin mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungan penggunaan ketamin, yaitu; (1) dalam pengaplikasianya ketamin sangat mudah, (2) menyebabkan pendepresan kardiovaskuler dan respirasi minimal, (3) dapat digunakan dalam situasi darurat dimana hewan belum dipuasakan, karena refleks faring tetap ada, (4) induksi cepat dan tenang, dan (5) dapat dikombinasikan dengan agen preanestesi atau anestesi lainnya. Kerugian dari penggunaan ketamin adalah (1) menyebabkan relaksasi otot tidak maksimal bila penggunaannya secara tunggal, (2) respon yang bervariasi pada beberapa pasien, (3) dapat menyebabkan hipotermia, (4) dapat menyebabkan kekejangan ektremitas, (5) menyebabkan konvulsi pada beberapa pasien, dan (6) recovery yang lama.
Ketamin dapat dipakai oleh hampir semua spesies hewan. Ketamin bersama xylazine dapat dipakai untuk anastesi pada kucing. Ketamin dengan pemberian tunggal bukan anastetik yang bagus (Sardjana dan Kusumawati 2004). Dosis pada kucing 10-30 mg/kg secara intra muskuler, mula kerja obat 1-5 menit, lama kerja obat 30-40 jam dan recovery lama, 100-150 menit (Lumley 1990). Menurut Kumar (1997) dosis ketamin pada anjing dan kucing ialah 10-20 mg/kg diberikan secara intramuskular.
Tindakan bedah merupakan satu-satunya terapi yang tepat untuk mencegah terjadinya hernia. Tindakan bedah dilakukan dengan cara menjahit lubang atau cincin hernia (Foster 2009). Menurut Anonim (2009), terdapat beberapa metode untuk memperbaiki hernia, yaitu:
(1) Perbaikan secara tradisional
Insisi dilakukan di atas lokasi hernia. Jaringan yang keluar dikembalikan kembali ke dalam ruang abdomen. Kantong dilepaskan dan jaringan yang kuat dijahit diatas kerusakan. Tipe perbaikan ini dapat menyebabkan tekanan dan jaringan yang dijahit diatasnya dapat menyebabkan rasa sakit. Kemungkinan terulangnya hernia juga tinggi.
(2) Perbaikan tanpa tegangan
Sebuah lubang khusus digunakan untuk memperbaiki daerah yang lemah. Prosedur ini dapat memperbaiki area yang rusak tanpa adanya tekanan pada jaringan.
(3) Laparoskopi
Pada laparoskopi, dilakukan insisi yang kecil pada abdomen. Melalui lubang tersebut dilakukan operasi perbaikan hernia.
Tindakan bedah yang dilakukan adalah operasi hernia dengan orientasi laparotomi medianus posterior. Sayatan pada daerah orientasi dilakukan tepat di bekas jahitan operasi sebelumnya. Proses penyayatan kulit dan subkutis dapat dilakukan dengan lancar. Pada kasus hernia ini, bagian otot pada daerah sayatan telah melekat dengan kulit. Hal ini disebabkan kondisi kucing yang kemungkinan sebelumnya pernah dilakukan operasi pada daerah abdomen dan terjadi perlukaan pada daerah otot-otot abdomen, sehingga pada saat proses persembuhannya bagian subkutis dengan otot abdomen menyatu.
Setelah penyayatan melewati bagian otot-otot abdomen, terlihat rongga abdomen berisi usus yang keluar dari lapisan peritoneum dan omentum. Pertama-tama usus dikeluarkan terlebih dahulu dari rongga abdomen untuk mencari cincin hernia. Setelah diamati ternyata cincin hernia telah mengalami pelebaran dan lapisan peritoneum dan omentum mengalami penipisan. Kondisi seperti ini mempersulit proses pencarian batas-batas cincin hernia. Usus kembali dimasukkan ke rongga abdomen kemudian ujung-ujung peritoneum dan omentum diambil dan difiksir menggunakan tang arteri sehingga orientasi titik-titik penjahitan dapat terlihat jelas. Sebelum dilakukan penjahitan, disemprotkan antibiotika penicillin cair secara topikal secukupnya ke dalam rongga abdomen untuk mencegah infeksi.
Penjahitan dilakukan dimulai dari peritoneum yang disatukan dengan omentum. Digunakan jarum berujung bulat ukuran 10/11, benang jahit cat gut chromic ukuran 3/0. Jahitan dilakukan dengan teknik sederhana/terputus, dimulai dari bagian ujung-ujung, tengah, kemudian titik lainnya mengikuti sampai dengan menutup sempurna. Setelah itu, dilakukan penjahitan pada ujung-ujung otot abdominal. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa otot-otot abdominal telah mengalami perekatan dengan bagian sub kutis, sehingga harus dilakukan penyayatan terlebih dahulu untuk memisahkan bagian sub kutis dengan otot. Setelah terpisah, maka dilakukan penjahitan dengan menggunakan jarum berujung bulat ukuran 10/11, benang jahit cat gut chromic ukuran 3/0. Jahitan dilakukan dengan teknik sederhana/terputus, dimulai dari bagian ujung-ujung, tengah, kemudian titik lainnya mengikuti sampai otot menutup sempurna. Setelah otot selesai, dilanjutkan penjahitan kulit menggunakan jarum ujung segitiga ukuran 10/11, benang silk ukuran 3/0.
Daerah jahitan diolesi oleh iodium tincture 3% sebagai desinfektan. Selain itu diberikan juga levertran/minyak ikan secara topikal untuk membantu suplai nutrisi pada jaringan yang luka dengan cara menginisiasi vasodilatasi pembuluh darah. Daerah jahitan ditutup menggunakan kain kassa dan verban, dilanjutkan dengan pemasangan gurita. Penyuntikan antibiotik Oxytetracycline dilakukan secara intramuskular untuk mencegah infeksi sistemik.
Selama operasi berlangsung, status present hewan berupa nadi, nafas, dan suhu diamati setiap 15 menit. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi hewan selama operasi. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel1.
Tabel 1 Hasil pengamatan status present selama operasi
| Aspek | Waktu (menit) | |||||||||
| 15 | 30 | 45 | 60 | 75 | 90 | 105 | 120 | 135 | 150 | |
| F. Nadi | 88 | 100 | 120 | 120 | 108 | 108 | 108 | 104 | 104 | 104 |
| F. Napas | 20 | 24 | 24 | 20 | 16 | 16 | 16 | 16 | 16 | 16 |
| Suhu (oC) | 38.2 | 37.6 | 36.1 | 33.5 | 34.7 | 33.9 | 35 | 34.4 | 33.8 | 34.9 |
Suhu tubuh normal kucing berkisar antara 38-39.5oC. Kisaran nafas normal kucing 15-30x/menit. Denyut jantung normal kucing berkisar 100-130x/menit. Pada 15 menit pertama terjadi penurunan suhu tubuh, frekuensi nafas maupun frekuensi denyut jantung. Keadaan ini disebabkan oleh efek ketamin+xylazin yang mengakibatkan pendepresan sistem respirasi dan kardiovaskular. Suhu tubuh menurun akibat efek anastetikum yang mendepres sistem saraf pusat. Frekuensi nafas dan nadi berfluktuasi namun masih dalam kisaran normal.
Agar kucing sembuh dengan baik, maka dilakukan pemantauan dan pengamatan kondisi hewan post operatif, yang disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Hasil pengamatan kondisi hewan post operasi
| Aspek | Hari ke- | |||||||
| 0 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | |
| F. Jantung | 140 | 144 | 128 | 136 | 136 | 120 | 124 | 124 |
| F. Napas | 27 | 29 | 28 | 24 | 24 | 24 | 28 | 28 |
| Temperatur | 35.9 | 38.8 | 37.8 | 38.0 | 38.5 | 38.5 | 38.4 | 38.5 |
| Nafsu makan/minum | -/+ | -/+ | -/+ | +/+ | +/+ | +/+ | +/+ | +/+ |
| Urin | + | + | + | + | + | + | + | + |
| Defekasi | - | - | - | - | + | - | + | + |
| Persembuhan luka | Basah | Basah | Basah | Basah | Basah | Basah | kering | kering |
| Tingkah laku | Lemah | Lemah | Lemah | Lemah | Lemah | baik | baik | baik |
Tabel di atas menunjukan bahwa sesaat post operatif, suhu kucing berangsur-angsur naik mendekati kisaran normal. Hal ini dikarenakan kucing diberikan penghangat berupa lampu pijar untuk mengembalikan keadaan hipotermia. Satu hari pasca operasi suhu tubuh hewan sudah berada pada kisaran normal. Secara umum frekuensi nafas dan nadi selama pengamatan post operasi berada dalam kisaran normal.
Sampai dengan hari ke-2 post operatif, kucing tidak mau makan makanan kering. Hal ini disebabkan masih adanya efek nausea akibat obat bius. Namun demikian, kucing masih mau minum sehingga terhindar dari kondisi dehidrasi. Pada hari ke-3, kucing dicoba diberikan makanan basah, ternyata kucing mau makan. Pada hari ke-7 dan seterusnya, nafsu makan kucing sudah kembali normal, sehingga diberikan makanan kering. Kondisi umum kucing masih terlihat lemah sampai dengan hari ke-4. Gambaran fisiologis hewan pasca operasi menunjukan pemulihan yang baik.
Selama 5 hari post operatif hewan diberikan antibiotik amoxicillin syrup sebanyak 2 cc 3 kali sehari. Amoksisilin yang digunakan berlabel Etamox® dengan kandungan 125 mg/5 ml dan dosis 20 mg/kgbb. Pemberian amoxicillin digunakan untuk mencegah infeksi sekunder bakteri. Untuk mempercepat proses persembuhan luka, setiap hari luka jahitan dibersihkan dengan menggunakan rivanol dan ditambahkan aplikasi perubalsem. Perubalsem adalah salep yang menganduk antiseptik. Menurut Darma (1997), pertautan tepi luka sebenarnya langsung terjadi dengan sendirinya sebagai respon untuk mengembalikan tubuh pada keadaaan normal, dimana terjadi regenerasi jaringan yang telah mengalami kerusakan. Pada hari ke 6 sampai hari ke-7, luka mulai mengering. Luka operasi ditangani secara tepat akan menyatu dengan sempurna antara 7 – 14 hari (Walker 1980). Pembukaan jahitan dilakukan pada hari ke-7 post operasi atau setelah jahitan mengering.
Secara umum, kondisi kucing baik dan aktif. Pembesaran di abdomen sudah tidak terlihat. Namun, pada pengamatan post operatif sekitar hari ke-9, bagian abdomen lateral dextra mengalami pembesaran. Setelah dilakukan palpasi, dapat ditemukan sebuah cincin dan massa dapat keluar masuk melalui cincin tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa kucing kembali mengalami hernia, tetapi kali ini pada bagian lateral dextra abdomen. Kejadian hernia kedua ini dapat disebabkan oleh kondisi peritoneum dan otot kucing yang sudah rapuh dan tipis. Proses operasi sebelumnya juga dapat dijadikan penyebab terjadinya hernia yang kedua ini.
KESIMPULAN
Proses pre-operasi, operasi dan post-operasi berjalan dengan baik. Keadaan hernia abdominalis pada ventral abdomen dapat dikembalikan masuk ke rongga abdomen dengan sempurna. Karena kucing terlalu aktif, pada hari ke-9 post operatif, terjadi pembesaran bagian abdomen kanan dan teraba lubang hernia.
Dari proses terapi operasi yang dilakukan, dapat diketahui bahwa kondisi jaringan peritoneum dan otot abdomen kucing yang menipis dan rapuh. Selain itu, umur kucing yang sudah relatif tua menjadi pertimbangan tersendiri untuk kembali melakukan tindak bedah. Melihat kondisi tersebut, maka prognosa kucing adalah infausta.
Contact for complete Refference


Haha I’m literally the first comment to this awesome writing!?
You have done it once again! Great article.
Thanx..
jangan terlalu banyak PE nya kalo kasusnya cuma hernia Abdominalis di palpasi aja ada cincin dan kantung, rontgen bener hernia slesai
ngapain pake pe yang lain segala hahahahayyy
pe nya banyak banget untuk kasus hernia aja kaya gini hahahah
di palapasi aja ada cincin dan kantung, kalo ragu pake rontgen pasti hernia
to alex: buat yg baru blajar jd dkter hewan, justru ini sbg contoh yg bagus n komplit. dosen aja blum tentu bisa sedetail ini. payah lu!
@mas Iwan: ga usah direwes mas, biarkan saja..
matur nuwun buat mas fiqrie,,
sama2, mas Iwan..
mas Fiqrie, minta sumber referensi dapusnya dong mas, khususnya Kumar (1996), Ganiswara (2001),
Silakan cek email, sudah sy kirim, semoga bermanfaat.. thnx