Feeds:
Posts
Comments

Oleh: MUHAMMAD FIQRIE RAHMAN (B04104108)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

Sumberdaya Alam Hayati dan Plasma Nutfah Indonesia
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pemanfaatan keanekaragaman hayati telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, sandang, dan obat-obatan. Kecukupan pangan akan tergantung pada ketersediaan varietas unggul yang berproduksi tinggi dan tahan cekaman biotik dan abiotik. Pada dasarnya varietas unggul itu adalah kumpulan dari keanekaragaman genetik spesifik yang diinginkan dan dapat diekspresikan. Keanekaragaman genetik spesifik tersebut ada pada plasma nutfah komoditi yang bersangkutan. Jadi plasma nutfah adalah keanekaragaman genetik di dalam jenis. Keanekaragaman genetik tersebut harus dipertahankan keberadaannya, bahkan harus diperluas agar selalu tersedia bahan untuk pembentukan varietas unggul (Somantri 2005).

Pemanfaatan Plasma Nutfah
Plasma nutfah yang kita miliki tidaklah berarti tanpa pemanfaatan untuk kesejahteraan. Pemanfaatan plasma nutfah dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Pemanfaatan plasma nutfah bisa secara langsung atau melalui proses pemuliaan. Pemanfaatan plasma nutfah melalui pemuliaan lebih membutuhkan dasar-dasar ilmiah daripada pemanfaatan plasma nutfah secara langsung. Di dalam teknik pemuliaan saat ini dikenal dengan istilah pemuliaan secara konvensional dan pemuliaan secara in-konvensional melalui bioteknologi (Somantri 2005).

Potensi Sumberdaya Ikan
Sebagai sumber plasma nutfah dan genetik, perairan umum daratan Indonesia memiliki keanekaragaman jenis ikan yang tinggi, sehingga tercatat sebagai salah satu perairan dengan ”mega biodiversity” di dunia. Komisi Nasional Plasma Nutfah Indonesia melaporkan bahwa perairan umum daratan Indonesia mengandung kekayaan plasma nutfah ikan yang jenisnya sangat banyak mencapai 25% dari jumlah jenis ikan yang ada di dunia. Di perairan umum daratan Indonesia yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi saja, dihuni oleh lebih dari 1000 jenis ikan, bahkan menurut FAO, perairan umum daratan Indonesia dihuni oleh sekitar 2000 jenis ikan. Banyak diantara jenis ikan yang ada belum tercatat atau belum teridentifikasi sehingga jumah jenisnya dari tahun ke tahun selalu bertambah (Kartamihardja et al 2008).


Peran Sektor Perikanan Darat

Ditinjau dari sektor perikanan, perairan umum daratan sebagai salah satu wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia berperanan penting dalam hal sebagai berikut: (1) sumber protein dan ketahanan pangan; (2) sumber ekonomi masyarakat; (3) sumber lapangan kerja; (4) sumber plasma nutfah dan genetik, (5) sumber devisa dan pendapatan asli daerah, dan (6) obyek wisata alam (eco-turism).
Dewasa ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi identifikasi dengan menggunakan DNA telah menambah catatan kekayaan jenis ikan di Indonesia. Sebagai contoh, jenis ikan yang termasuk famili Pangasidae (jenis-jenis patin/catfish) yang semula hanya dikenal 6 jenis, kini dengan menggunakan identifikasi DNA ternyata jenis-jenis ikan patin tersebut diketahui menjadi 12 jenis (Kartamihardja et al 2008).

Budidaya Ikan Patin
Banyak cara untuk memanfaatkan plasma nutfah yang begitu berlimpah di negeri ini. Salah satu cara pemanfaatannya adalah melalui budidaya ikan patin. Ikan patin djambal (Pangasius pangasius) merupakan ikan asli Indonesia yang berhasil didomestikasikan dan dipijahkan secara buatan pada tahun 1999. (Anonim 2008)
Ikan patin merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang berwarna putih perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Ikan patin dikenal sebagai komoditi yang berprospek cerah, karena memiliki harga jual yang tinggi. Hal inilah yang menyebabkan ikan patin mendapat perhatian dan diminati oleh para pengusaha untuk membudidayakannya. Ikan ini cukup responsif terhadap pemberian makanan tambahan. Pada pembudidayaan, dalam usia enam bulan ikan patin bisa mencapai panjang 35-40 cm (Susanto 1997).


Pedoman Teknis Budidaya Ikan Patin

Budidaya ikan patin meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan merupakan upaya untuk menghasilkan benih pada ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih selepas masa pendederan.
Secara garis besar kegiatan usaha pembenihan ikan patin secara berurutan meliputi: Pemilihan calon induk siap pijah, persiapan hormon perangsang/kelenjar hipofise dari ikan donor, kawin suntik (induce breeding), pengurutan (stripping), penetasan telur, dan perawatan larva (Hernowo 2005).
Setelah dilakukan pemanenan pada usaha pembenihan, kegiatan budidaya dilanjutkan dengan pemeliharaan pembesaran. Secara garis besar, usaha pembesaran ikan patin meliputi empat hal mendasar, yaitu: pemupukan, pemberian pakan, pemeliharaan kolam, dan pemanenan. (Anonim 2008).

Permasalahan yang Dihadapi Petani Ikan Patin
Suatu kegiatan usaha pastinya tidak akan terlepas dari adanya berbagai permasalahan. Jika ditinjau berdasarkan tingkat perkembangan ikan patin, permasalahan yang timbul diantaranya adalah permasalahan mengenai induk, telur dan larva. Sedangkan berdasakan penyebabnya, permasalahan dapat timbul akibat hama dan penyakit.
Menurut salah satu petani pembenihan patin di daerah Cikampak, Ciampea Bogor, permasalahan yang kerap kali muncul adalah Lambatnya Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada indukan. Masalah yang satu ini tidak dapat dianggap sepele karena posisi TKG berada pada bagian hulu dari usaha budidaya. Manajemen budidaya merupakan kegiatan yang dilakukan secara berurutan sehingga segala aspek yang berada pada bagian hulu akan mempengaruhi kualitas produk di bagian hilir usaha.

Solusi yang Ditawarkan Continue Reading »

Apa kabar kawan? semoga sehat selalu, amiin..sudah lama absen di blog, jadi kepingin nulis lagi..
barusan buka-buka web, ada artikel menarik dari Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta,  judulnya seperti yang tertera di atas..
Daging ayam, merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak digemari masyarakat indonesia, karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan daging sapi, selain itu juga mudah didapat.. Animo masyarakat ini menjadi trigger para penjual daging ayam untuk mendapatkan/menyediakan daging ayam lebih banyak.. Namun, cara-cara yang digunakan tentu saja tidak semuanya baik, ada beberapa (mungkin lebih banyak dari perkiraan saya) pedagang ayam yang kurang memperhatikan aspek ASUH dalam menyajikan produk dagangannya, dan itu akan membahayakan kita sebagai konsumen.. Oleh karena itu, Saya kira setiap keluarga, khususnya ibu rumah tangga harus mengetahui cara membedakan daging ayam yang baik dan  yang tidak baik.. Berikut adalah kutipannya, selamat menikmati..


Daging ayam merupakan daging yang relatif murah dibandingkan dengan daging yang lain ( Daging sapi, kerbau dan kambing) sehingga banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari tingkat atas sampai tingkat bawah.

Daging ayam yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) adalah daging yang diharapkan oleh semua konsumen, karena dari berbagai aspek daging ayam yang ASUH terjamin jika dikonsumsi oleh masyarakat.

Pengertian ASUH :
AMAN : Tidak mengandung residu bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit atau mengganggu kesehatan manusia.
SEHAT : Memiliki zat-zat yang berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan.
UTUH : Tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian hewan lain.
HALAL : Sesua dengan syariat ISLAM

Pelaku bisnis yang terlibat dalam proses pemotongan ayam hingga perdagangan daging ayam sangat banyak dan beragam tingkat pendidikannya, sehingga penyimpangan dalam penanganan dan perdagangan daging ayam sering ditenui di tempat Pemotongan Ayam (TPA) atau di pasar.

  • Praktek penyimpangan apa saja yang dijumpai dipasar?

Praktek penyimpangan dalam penanganan karkas ayam mulai dari tempat Pemotongan Ayam ( TPA) sampai ke tempat penjualan telah banyak dijumpai seperti :

1. Penjualan bangkai ayam sebagai ayam potong
2. Pemakaian formalin sebagai bahan pengawet
3. Penyuntikan karkas ayam dengan air atau udara.
4. Pemberian warna kuning pada karkas atau daging ayam.

  • Bagaimana cara membedakan karkas daging ayam yang sehat dengan yang tidak sehat atau telah dilakukan penyimpangan ? Continue Reading »

TINJAUAN KASUS

Anamnesis:

Kucing ditemukan di pinggir jalan darmaga Bogor, dengan perut membesar.

Signalement:

Nama                             : NN

Jenis                              : Kucing

Jenis kelamin             : Betina

Ras                                  : Lokal

Warna bulu                  : Hitam dan putih

Umur                             : Lebih dari 2,5 tahun

Berat badan                : 2,5 Kg

Status Present:

Keadaan umum

Perawatan                       : Sedang

Habitus/tingkah laku : Jinak

Gizi                                     : Sedang

Pertumbuhan badan   : Baik

Sikap berdiri                  : Berdiri  tegak dengan empat kaki

Suhu tubuh                    : 38,7 0C

Frekuensi nadi               : 152 kali/menit

Frekuensi nafas             : 24 kali/menit

Adaptasi lingkungan   : Baik

Kulit dan bulu:

Aspek bulu                     : Mengkilat, bersih

Kerontokan                    : rontok

Kebotakan                      : tidak ada

Turgor kulit                    : baik, < 3 detik

Permukaan kulit           : Pada daerah ventral abdomen terdapat jahitan luka post operatif yang sudah mengering.

Bau kulit                           : Bau khas kucing

Kepala dan leher:

Ekspresi wajah              : Bereaksi, waspada

Pertulangan kepala     : Kompak, tidak ada perubahan

Posisi tegak telinga     : Tegak keduanya

Posisi kepala                  : tegak

Mata dan Orbita Kiri dan Kanan

Palpabrae                      : Membuka sempurna

Cilia                                  : Tumbuh ke arah luar

Konjunktiva                  : Rose

Membrana Nictitans : Tersembunyi

Sclera                              : Putih

Cornea                            : Jernih

Iris                                    : Kuning pucat

Limbus                            : Tepi rata

Pupil                                : Membuka

Refleks Pupil                 : Ada

Limbus                            : Rata

Vasa injeksi                   : Tidak ada

Hidung dan Sinus-Sinus: Cermin hidung kering, tidak ada discharge, lubang hidung simetris

Mulut dan Rongga Mulut

Rusak/Luka Bibir       : Tidak ada

Mukosa                          : Rose

Gigi Geligi                      : Gigi seri tanggal 9, canine atas kanan tanggal  separuh, ada karang gigi

Lidah                               : Tidak ada kerusakan

Telinga

Posisi                              : Tegak keduanya

Bau                                   : Tidak ada

Permukaaan Daun Telinga: Bersih, tidak ada kerak

Krepitasi                         : Tidak ada

Refleks panggilan        : Ada

Leher

Perototan                       : Simetris, tidak ada kebengkakan

Trachea                           : Teraba

Esofagus                          : Teraba, tidak adanya sisa makanan

Lymphonodus rethropharingealis

Ukuran                           : Kecil, tidak ada perubahan

Lobulasi                         : Jelas

Perlekatan                    : Tidak ada

Konsistensi                   : Kenyal

Suhu                                : Tidak panas

kesimetrisan                : Simetris

Sistem Pernapasan

Bentuk, ukuran thoraks : Simetris, tidak ada pembesaran

Tipe pernapasan            : Costal

Ritme                                  : Teratur/ritmis

Intensitas                          : Sedang

Frekuensi                          : 24 kali/menit

Penekanan rongga thoraks  : Tidak ada respon sakit

Palpasi intercostals                 : Tidak ada respon sakit

Lapangan paru-paru               : Tidak ada perluasan

Gema perkusi                             : Nyaring (suara udara)

Suara pernapasan                    : Terdengar jelas, tidak ada perubahan

Suara ikutan                               : Tidak ada

Sistem sirkulasi

Ictus cordis                     : Tidak ada

Lapangan jantung         : Tidak ada perluasan

Frekuensi                         : 152 kali/menit

Intensitas                        : Sedang

Ritme                                 : Teratur, cepat

Suara sistol-diastolik  : Terdengar jelas

Ekstrasistolik                  : Tidak ada

Sinkron pulpus dan jantung: Sinkron

Abdomen dan Organ Cerna

Besar abdomen               : Tidak simetris, pembesaran pada bagian ventral dan sisi sebelah kanan

Bentuk Abdomen           : Pembesaran di hipogastrik kiri dekat daerah inguinalis

Flank                                   : Terlihat

Suara peristaltik lambung: Tidak terdengar

Epigastricus                   : Teraba, bagian ventral menonjol

Mesogastricus               : Teraba, bagian ventral menonjol

Hypogastricu                : Teraba, bagian ventral sedikit sensitif, menonjol, Pada daerah ventral abdomen terdapat jahitan luka post operatif yang sudah mengering.

Continue Reading »

FELINE CALICI VIRUS

SIGNALEMENT

Nama              :  Princess

Spesies           :  Kucing

Ras                  :  Persia

Sex                  :  Betina

Warna             :  Coklat-krem

Umur               :  2 bulan

Nama Pemilik : Mr. X

Alamat             : Jakarta

 

ANAMNESE

Princess bersin-bersin dan pilek, belum pernah di vaksin, tidak disusui induknya. Makanan sebelumnya adalah recovery food.

 

PRESENT ILLNESS

Activitas          :  Lethargy

Appetize          :  Anoreksia

Minum             :  Tidak mau minum

Defekasi          :  Normal

Urin                 :  Normal

Vomit               :  (-)

Batuk               :  (-)

Pilek                :  (+)

 

STATUS PRESENT

Berat badan    :  1,2 kg

Suhu                :  40,4oC

Palpasi abdomen :   Tekanan dan rasa sakit (-)

Lymphonodus : Tidak bengkak

Mukosa           :  Anemis

Mata                :  Ada discharge serous

Hidung             :  Ada discharge mucopurulent

Trakhea           :  Palpasi trakhea tidak ada batuk

Telinga            :  Kotor

Mulut               :  Salivasi dan ada ulcer

Kulit                 :  Kusam

 

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • Feses
  • CBC (Complete Blood Count) / hematologi

Continue Reading »

Di dalam Alqur’an surat Al-Maidah ayat 88 disebutkan bahwa “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizqikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. Untuk memenuhi hal tersebut (makanan yang halal dan baik), serta keamanan produk pangan asal hewan (PPAH), maka dalam berkurban harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut (Dinas Peternkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2009).

Perlakuan pada hewan sebelum disembelih:

  1. Pemeriksaan antemortem (pemeriksaan kesehatan hewan sebelum disembelih). Paling lama 24 jam sebelum penyembelihan dilaksanakan. Pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter hewan atau paramedis kesehatan hewan (di bawah pengawasan dokter hewan). Hanya hewan Sehat yang boleh dipotong.
  2. Hewan dilakukan secara baik dan wajar dengan memperhatikan azas kesejahteraan hewan.
  3. Hewan diistirahatkan sekurang-kurangnya 12 jam sebelum disembelih untuk menghasilkan daging yang berkualitas.
  4. Hewan sebelum disembelih dipuasakan selama kurang lebih 6 jam namun diberi minum yang cukup.
  5. Saat penyembelihan, hewan direbahkan secara hati-hati, tidak dengan cara paksa dan kasar agar hewan tidak stress, takut, tersiksa dan tersakiti/terluka agar setelah dilakukan pemotongan otot tidak tegang dan perubahan dari otot menjadi daging akan lebih sempurna serta tidak menimbulkan resiko bagi penyembelih.

Syarat Penyembelih:

  1. Laki-laki muslim, dewasa (baligh)
  2. Sehat jasmani dan rohani
  3. Memiliki pengetahuan dan keterampilan teknis dalam penyembelihan halal yang baik dan benar.

Syarat peralatan: Continue Reading »

Sebentar lagi akan datang hari raya kurban atau yang biasa kita sebut idul adha, yaitu pada tanggal 10 Dzulhijjah atau bertepatan pada tanggal 27 November 2009. Namun demikian, kurban masih dapat dilakukan pada 3 hari setelahnya, yaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah (Hari Tasyrik). Pada idul adha, umat muslim melaksanakan penyembelihan hewan kurban dengan sayarat-syarat tertentu. Hukum dari ibadah kurban sendiri adalah sunnah muakkad bagi yang mampu (QS. Al-kautsar ayat 2), artinya tidak ada dosa bagi orang yang tidak melaksanakannya.

Dalam melakukan ibadah kurban, tentunya ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, baik itu dari sudut pandang syariah islam, maupun dari sisi medis (kesehatan masyarakat veteriner/kesmavet). Namun dari kedua sudut pandang tersebut tidak ada yang saling bertentangan, sisi keilmuan/medis memang menunjang persyaratan -persyaratan yang telah ada menurut syariah islam.

Menurut syariah islam, hewan yang boleh dikurbankan adalah unta, sapi, dan kambing. Hendaknya hewan yang akan dikurbankan berumur minimal: unta: 5 tahun, sapi: 2 tahun dan kambing: 1 tahun.Persyaratan hewan kurban yaitu harus sehat, tidak memiliki cacat, sebagaimana sabda rasulullah tentang 4 hal yang tidak mencukupi syarat untuk  jadi hewan kurban yaitu:

  1. Buta yang jelas
  2. Sakit yang nyata
  3. Pincang yang sampai kelihatan tulang rusuknya
  4. Kurus sekali

Dalam proses penyembelihan hewan kurban, diwajibkan hal-hal sebagai berikut:

Continue Reading »

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”

Continue Reading »

Kawin suntik atau biasa disebut Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu teknik yang umum dilalukan dalam usaha perbaikan mutu genetik hewan. Penerapan teknologi pengolahan semen (sperma) untuk inseminasi buatan (IB) merupakan alternatif tepat guna untuk meningkatkan populasi ternak sapi secara aktif progresif. Melalui teknologi pengolahan semen, semen yang diperoleh dari pejantan unggul dapat diolah sehingga lebih banyak sapi betina yang dapat dikawinkan dan meminimalkan pengaruh negatif pada sapi pejantan yang dijadikan sumber semen.

Kawin Suntik (IB)

Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan merupakan suatu cara untuk meningkatkan populasi ternak secara kuantitatif dan kualitatif dengan cara pemasukan atau penyampaian semen dari bibit pejantan unggul ke dalam saluran kelamin betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia. Inseminasi buatan memungkinkan perbaikan genetik hewan karena hewan jantan yang akan di koleksi semennya merupakan hewan jantan unggul yang telah diseleksi. Selain itu, IB dapat berfungsi sebagai kontrol kasus venereal disease, perbaikan manajemen peternakan dengan sistem recording yang akurat dan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Keberhasilan teknik IB dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: cara penampungan semen, penilainan semen secara makroskopis maupun mikroskopis, pengolahan semen baik semen cair maupun semen beku hingga metode pendeposisian semen ke dalam organ reproduksi betina.

Selain itu, faktor lain yang menentukan keberhasilan IB adalah peternak, inseminator, betina, pejantan, serta manajemen hewan. Peternak sangat berperan dalam melakukan pengamatan birahi pada hewan sehingga IB dapat dilakukan pada waktu yang tepat sedangkan inseminator diperlukan keahlian yang baik sehingga dapat melaksanakan IB dengan tepat. Faktor betina yang sangat menentukan keberhasilan IB diantaranya siklus birahi, kesehatan, dan umur produktif betina sedangkan faktor pejantan sangat menentukan kualitas dan kuantitas semen. Manajemen termasuk didalamnya manajemen kandang, pakan, dan reproduksi (recording) merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam menentukan keberhasilan IB.

Manajemen pemerahan

fikri perah

pemerahan di kandang

Pada umumnya pemerahan dilakukan sebanyak 2 kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun, jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan 3 kali sehari, yakni pagi, siang dan sore hari. Jarak pemerahan dapat menentukan jumlah susu yang dihasilkan. Jika jaraknya sama, yakni 12 jam, maka jumlah susu yang dihasilkan pada pagi dan sore hari akan sama. Namun, apabila jarak pemerahan tidak sama, maka jumlah susu yang dihasilkan pada sore hari akan lebih sedikit daripada susu yang dihasilkan pada pagi hari.

Pemerahan yang baik dilakukan dengan cara dan alat yang bersih. Tahapan-tahapan pemerahan harus dilakukan dengan benar agar sapi tetap sehat dan terhindar dari penyakit yang dapat menurunkan produksinya. Tahapan-tahapan pemerahan tersebut meliputi persiapan pemerahan, dan teknik pemerahan.

Continue Reading »

Program kesehatan dalam peternakan sapi perah harus dijalankan secara teratur, terutama pada wilayah yang sering terjadi penyakit menular, sepeti TBC, brucellosis, penyakit mulut dan kuku (PMK), dan radang limpa (anthrax). Pada wilayah yang endemis penyakit-penyakit tersebut, sebaiknya sapi-sapi yang dipelihara divaksinasi secara teratur. Pemeliharaan yang tidak baik dapat menyebabkan kematian anak sapi, terutama yang baru berumur 2-3 minggu.

anak sapi

kandang pedet tie stall

Pada peternakan yang baik dapat menekan kematian anak sapi sampai serendah-rendahnya 1%, sedangkan peternakan yang tidak baik, angka kematiannya bisa mencapai 20-25%. Beberapa penyakit tidak menyebabkan kematian pada anak sapi. Namun, anak sapi yang lemah dan kurus sangat peka terhadap penyakit dan mudah terserang/tertular penyakit dari sapi lain.

Pada umumnya penyakit-penyakit pada anak sapi disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau karena tata laksana pemberian pakan (manajemen pakan) yang kurang baik. Biasanya penyakit yang sering menyerang anak sapi adalah septikemia akut, salesma dan radang paru-paru.

Continue Reading »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.